Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021: Secercah Harapan untuk Kampus Bebas Kekerasan Seksual

Diterbitkannya Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 merupakan angin segar ditengah mirisnya berbagai kasus pelanggaran berbasis seksual yang terjadi. Begitulah maknanya bagi sosok On Frame ini. Margianta Surahman Juhanda Dinata namanya. Margianta adalah seorang Executive Director dari Emancipate Indonesia, sebuah yayasan yang berfokus pada isu perbudakan modern dan pekerja muda yang selalu mengedepankan aspek gender. 

Margianta menerima informasi mengenai frame yang digunakannya untuk mendukung ditetapkannya Permendikbud melalui nomor 30 Tahun 2021 melalui jejaring sosial dan sosial media yang aktif digunakannya. Partisipasi yang sangat beragam secara demografi, menunjukkan seakan frame ini adalah milik semua orang bagi Margianta. Inilah yang mendorong Margianta untuk ikut serta mendukung frame ini.

Dukungan Permendikbud PPKS – oleh Jihan Faatihah

Link: https://twb.nz/jarmudpermenppks

Menurut Margianta, banyaknya dukungan yang diberikan melalui frame ini juga menunjukan bahwa permasalahan mengenai kekerasan seksual memang valid adanya, serta layak untuk diperjuangkan. “Permendikbud ini menjadi salah satu pendukung ruang aman baik bagi yang bekerja di lingkungan perguruan tinggi maupun yang menimba ilmu di lingkungan perguruan tinggi” ujar Margianta.

Kasus kekerasan berbasis gender yang terus meningkat, terlebih di tengah kondisi pandemi COVID-19 saat ini, membuat Indonesia berada di kondisi yang darurat. Margianta yang selalu ikut mengawal isu ini melihat penetapan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 sebagai cahaya di ujung jalan yang mewakili aspirasi dan menanggapi keresahan masyarakat. “Walaupun miris, tetapi dengan hadirnya Permendikbud PPKS ini seperti cahaya yang terlihat diujung jalan kalau kita bisa pertahankan momentum ini”.

Tidak hanya pencegahan melalui sosialisasi, mengadili pelaku, dan penyelesaian kasus yang terpenting untuk menghadapi isu ini, tetapi pemulihan korban yang juga dicakup dalam permendikbud ini menunjukan bahwa peraturan yang dibuat sudah sangat memikirkan korban dan dibuat dengan melibatkan korban secara langsung.

“Kalau kita baca baik-baik, Pemendikbud itu sangat memikirkan korban, sampai pertemuan diluar kampus itu diatur, ini gak akan bisa ada poin-poin spesifik seperti itu, kalau penyusunannya tidak melibatkan korban atau penyintas langsung” ujar Margianta.

Menanggapi argumen dari pihak oposisi yang menuntut revisi ataupun pencabutan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 ini, Margianta berharap agar sebaiknya pihak oposisi berbicara langsung dengan para penyintas kekerasan seksual untuk mendengarkan langsung cerita pengalaman mereka di lingkungan perguruan tinggi yang tidak aman.

“Lihat mereka bukan sebagai sebuah agenda atau dari ideologi, tetapi sebagai orang, individu, manusia yang punya pengalaman tersebut. Langsung merasakan dan berempatilah sama mereka, kemudian baca kembali baik-baik isi Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 dan refleksikan isi peraturan ini yang sebenarnya dan berpihak kepada siapa peraturan ini dibuat” kata Margianta.

Menurut Margianta, “ini adalah masalah generasional yang diwariskan ke kita dari generasi sebelumnya dan ini adalah PR bersama yang belum selesai”. Bagi Margianta, Twibbonize telah menjembatani komunikasi antar generasi untuk isu ini dan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran semua kalangan dan membantu membuat orang agar berani berbicara. Cerita pribadi pada caption Twibbonize frame yang digunakan para pendukung kampanye ini pun menjadi kunci dari suara yang diutarakan. Cara lain seperti membuat petisi, donasi, audiensi, advokasi, dan riset juga dapat dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan kampanye isu ini.

Tidak ketinggalan, Margianta juga menyampaikan tiga pesan yang ditujukan kepada sesama laki-laki sebagai mitra dalam mewujudkan keadilan. Pesan pertama adalah bahhwa korban tidak hanya perempuan, namun bisa juga laki-laki, dan permendikbud Nomor 30 tahun 2021 tidak menyebutkan bahwa korban hanya perempuan.

Pesan kedua dari Margianta adalah bahwa laki-laki tidak seharusnya mengambil pangggung untuk berbicara atas nama perempuan. Laki-laki sebaiknya mendukung suara teman-teman penyintas yang kebanyakan perempuan agar mereka mendapatkan kesempatan untuk suaranya didengarkan.

“Dalam isu kekerasan berbasis gender, laki-laki itu bukan pihak paling dirugikan, laki-laki justru seringkali menjadi sumber masalah. Jadi, yang kita lakukan sebaiknya menjadi mitra untuk memperkuat suara yang sudah berbicara terutama para penyintas yang berani bicara di publik, karena saya percaya tidak ada yang voiceless, semua orang ada suaranya, tapi siapa yang pegang mic-nya” ujar Margianta.

Pesannya yang terakhir untuk kaum laki-laki adalah agar jangan diam saja dan lakukan sesuatu saat terjadi pelecehan atau kekerasan seksual, baik yang dilakukan oleh senior kampus, maupun jejeran petinggi dan staf kampus sekalipun. Perlu diketahui bahwa korban pelecehan seksual dapat mengalami tonic mobility dari reaksi kimia dalam tubuh yang membuat tubuh korban pelecehan tidak bisa bergerak. 

Selain itu, lelucon seksisme yang menjadikan perempuan sebagai objek juga adalah hal yang tidak layak untuk masuk kedalam perbincangan yang maskulin menurut Margianta. “Tidak perlu membayangkan perempuan itu kan ibu kalian, perempuan adalah manusia yang sama-sama ingin dihargai, hargai mereka dan jangan ikut-ikutan lingkungan yang toxicmasculinity seperti itu” ujar Margianta.

Tumbuh besar oleh seorang ibu yang merupakan orang tua tunggal membuat Margianta menyadari pentingnya isu gender sejak kecil. Ibu Margianta yang juga merupakan seorang pendidik dan periset turut mengalami diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, seperti banyak perempuan lainnya yang turut mendukung Permendikbud no. 30 tahun 2021. “Mama adalah sumber inspirasi terbesar saya. Beliau mengajarkan saya bagaimana laki-laki bisa menjadi ally atau mitra dalam memperjuangkan keadilan gender” ujar Margianta. 

Sejak duduk di bangku SMA, Margianta aktif di jaringan Forum Anak di kota Bogor dan nasional bergerak menghadapi isu terkait hak dan partisipasi anak dan kaum muda dalam pembangunan, khususnya dalam isu kesehatan dan keadilan gender.

Saat menjadi mahasiswa tingkat akhir pada tahun 2017, Margianta mendirikan Emancipate Indonesia. Saat ini Margianta juga aktif sebagai anggota Indonesian Youth Council For Tobacco Control (IYCTC), konsultan untuk Yayasan Lentera Anak, dan konsultan untuk UNICEF Headquarter New York terkait program kesehatan global dan anak muda untuk pencegahan penyakit tidak menular.

Untuk menghadapi pelecehan seksual, lakukan strategi bystander intervension dari Hollaback! Jakarta.