Menteri Gagal Paham Budaya Disabilitas, Twibbonize Frame pun Bergerak

Sebuah frame terkait isu disabilitas menjadi trending Twibbonize beberapa hari lalu saat diperingatinya Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2021. Bukan semata karena adanya peringatan Hari Disabilitas, isu dalam frame ini menjadi topik hangat bagi publik karena sebuah insiden yang terjadi pada sosok pejabat pemerintah Republik Indonesia (RI).

Bagi kamu yang belum mengetahuinya, Twibbonize frame tersebut adalah gerakan yang menolak audism. Kamu dapat membaca artikel sebelumnya yang berjudul “Memperingati Hari Disabilitas Internasional, Taukah Kamu Tentang Audism dan Ableism?“.

Melihat seberapa krusialnya gerakan ini, Twibbonize News menggali lebih jauh mengenai apa yang sebenarnya terjadi dibalik frame ini.

Stop Audism. Bahasa Isyarat juga ciptaan Tuhan lho.. – oleh Formasi Disabilitas

Link: https://twb.nz/stopaudism

Twibbonize frame tersebut dibuat oleh sebuah Forum Masyarakat Pemantau untuk Indonesia Inklusif Disabilitas, yaitu Formasi Disabilitas. Berdasarkan informasi yang diperoleh Twibbonize News dari inisiator frame, Mohammad Ismail yang bekerja untuk bagian database di Formasi Disabilitas, ada perilaku Menteri Sosial dalam rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2021 yang tidak dapat diterimanya.

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini memaksa seorang penyandang disabilitas rungu wicara untuk berbicara di depan publik. Hal ini terjadi saat perayaan HDI dilakukan di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada hari Rabu, 1 Desember lalu.

Menurut Ismail, apa yang dilakukan ibu Risma merupakan sikap seorang audist. Audisme adalah sikap diskriminasi atau prasangka terhadap individu tuli yang beranggapan bahwa kemampuan mendengar dan berbicara lebih baik daripadanya. Dengan kata lain, audisme sama dengan pelarangan bahasa isyarat.

“Apa yang dilakukan oleh Ibu Risma sebagai sikap seorang audis tidak bisa diterima. Supaya tidak berlarut-larut, karena ibu Risma juga seorang pejabat publik sebagai Menteri Sosial sudah saatnya lebih baik meminta maaf” ujar Ismail.

Twibbonize frame Stop Audism dibuat dan ditujukan kepada masyarakat Indonesia khususnya kelompok masyarakat yang berinteraksi dengan orang tuli (orang tua, keluarga, tetangga), serta komunitas pejabat pemerintah agar tidak mendukung perilaku audism.

Ismail mengatakan bahwa aplikasi Twibbonize sangat membantu gerakan untuk kelompok disabilitas di Indonesia. Melalui Twibbonize, masyarakat menjadi mudah untuk menggunakan frame ini dan membagikannya ke berbagai platform sosial media. Selain itu “melalui Twibbonize juga bisa mengetahui seberapa besar dukungan dengan melihat statistik pendukung yang memasang frame ini” lanjut Ismail.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Formasi Disabilitas mengharapkan agar edukasi budaya tuli dilakukan secara lebih masif lagi. Cukup sederhana keinginan teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia yang disampaikan Ismail, yaitu sikap saling menghormati keberagaman dan menghilangkan diskriminasi yang terselubung dalam kehidupan bermasyarakat.

Waktu berjalan setiap hari dan teman-teman disabilitas masih harus menghadapi perilaku-perilaku yang tidak seharusnya dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Tidak hanya di Hari Disabilitas Internasional, namun setiap hari, audisme harus kita sadari.