Gelombang Warisan Budaya Wayang dalam Kaca Mata Seorang Pengagum Wayang

Kesenian budaya wayang sepertinya tengah menghadapi gelombang peminatnya dari masyarakat Indonesia. Kampanye menolak pemusnahan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia, yaitu wayang tengah ramai di Twibbonize dan sosial media. Meski telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 November tahun 2003, dan Hari Wayang Nasional diperingati setiap tahun, namun keberadaan warisan budaya ini sudah tidak seperti dulu lagi.

Melihat situasi ini, seorang pengagum kesenian wayang, Bapak Arya Tedja Tjakrahadisurya atau yang kami sapa Pak Arya ikut bergerak mendukung kampanye yang ada di Twibbonize. Berbagai jenis wayang digemari pak Arya, mulai dari wayang kulit hingga wayang orang sedari Ia kecil.

Pak Arya lahir di Semarang pada tahun 1968. Lahir di pulau jawa dalam keluarga yang dekat dengan industri seni, sejak kecil pak Arya sering diajak orang tua-nya untuk menonton wayang dan membuatnya jatuh cinta dengan dunia seni pertunjukan hingga membawanya ke industri perfilman dan menggeluti profesi sebagai DoP (Director of Photography).

Kedekatan pak Arya dengan budaya asli Indonesia tidak hanya ada pada kesenian wayang. Sejak kecil pak Arya juga diajarkan ilmu kejawen pangestu, menonton ludruk, kethoprak, namun semuanya kini seakan sudah punah bagi pak Arya.

Menurut pak Arya, besarnya pengaruh dari luar, seperti masuknya budaya barat menerapkan sistem komunikasi visual dengan lebih lugas dan efisien kepada pemirsanya, sementara komunikasi dalam wayang menggunakan cara penyampaian wayang cenderung bertele-tele dan kurang lugas.

Meski keadaan sudah berubah, pak Arya tetap berkeinginan untuk membuat pertunjukan seni wayang yang diadaptasi dengan situasi dan kondisi saat ini. Pak Arya sempat bermimpi untuk membuat adegan wayang yang lebih compact, berdurasi pendek, dan lebih efisien dalam tuturnya untuk mengembangkan imajinasi penontonnya.

Namun, berbagai halangan mulai dari biaya, manajemen di industri hiburan, membuat impian pak Arya dalam upayanya untuk mempertahankan warisan budaya wayang ini sulit dan belum sempat terwujudkan.

Salah satu perselisihan yang ada dalam merealisasikan pertunjukan wayang di media baru saat ini adalah ada dua perspektif yang berbeda dalam mempertunjukan wayang kulit yang akan berpengaruh terhadap imajinasi yang akan ditangkap oleh penontonnya. Pak Arya menyampaikan bahwa ada perspektif yang ingin lebih menunjukan bagaimana seorang dalang memainkan wayangnya dengan menonjolkan unsur yang detail dari sebuah wayang, yaitu ukiran dan warnanya. Sementara, ada perspektif lain yang lebih ingin menampilkan sisi sebaliknya, yaitu siluet wayang yang bisa memberikan impresi yang berbeda.

Dengan teknologi yang ada saat ini, wayang seharusnya dapat diadaptasi dalam industri seni pertunjukan sekarang. “Seharusnya bisa sih, karena kemampuan kamera jaman sekarang lebih canggih, masalah sensitifitas dan intensitas cahaya kamera sekarang jauh lebih baik” ujar pak Arya.

Bagaimanapun kondisi warisan budaya ini, Pak Arya tetap tidak berhenti untuk mewujudkan keinginannya, mengusahakan agar penyampaian dalam pertunjukan wayang dapat menjadi lebih lugas sehingga wayang dapat lebih berkembang dan disenangi anak-anak muda dan terus dilestarikan. Menurutnya wayang sendiri perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, bukan sebaliknya.

“Gak bisa kita cuma ‘kamu harus senang’ loh gak bisa, masa dipaksa” kata pak Arya.

Pak Arya kemudian menambahkan “misalnya anak saya sekarang, gimana mau nonton wayang, kan gak ada, masa anak muda selalu disalahin, kan mereka tidak dikenalin.”

Beliau pun tetap bergerak dan melakukan apa yang bisa Ia lakukan untuk mempertahankan warisan budaya dunia ini dengan mendukung sebuah Twibbonize frame dan membagikannya melalui sosial media.

Tolak Pemusnahan Wayang – oleh Ries Handono

Link: twb.nz/tolakpemusnahanwayang

Frame yang didukung pak Arya ini ternyata juga ramai digunakan oleh lebih dari 13 ribu orang lainnya karena berkaitan dengan semakin banyaknya perbincangan masyarakat Indonesia mengenai gelombang yang melanda budaya wayang. Hal ini dipicu oleh ramainya sebuah video yang beredar tentang pernyataan yang kontroversial dari seorang Ustaz bernama Khalid Basalamah karena menyinggung persoalan hukum wayang dari sudut pandang agama Islam. Banyak pihak yang tersinggung dan menanggapi pernyataan Ustaz tersebut karena dapat dipahami sebagai pandangan bahwa wayang kulit haram dimainkan oleh umat Islam dan sebaiknya dimusnahkan.

Pernyataan tersebut mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan mulai dari kalangan seniman, politisi, tokoh agama, hingga masyarakat umum yang dicurahkan dengan berbagai Twibbonize frame melalui sosial media dan aplikasi pesan instan.

Setelah menonton video lengkap dari kasus yang menuai kontroversi tersebut, pak Arya sebagai pengagum kesenian wayang menyampaikan kepada Twibbonize News bahwa dirinya dapat menerima pernyataan Ustaz tersebut tanpa merasa tersinggung.

Beliau mengatakan bahwa “buat saya untuk apa kita tersinggung kalau orang punya ideologinya sendiri.”

Ia dapat memahami jika wayang mengandung unsur-unsur yang tidak islami dengan adanya konsep Dewa-Dewi, Nirvana, dan sebagainnya di dalam wayang, sehingga wajar baginya jika wayang tidak sesuai dalam ajaran agama Islam.

“Islam mempunyai pandangan sendiri untuk menjadi lebih baik, ya ini (wayang) harus ditinggalkan,” kata pak Arya.

Beliau kemudian menambahkan “kalau konteksnya budaya wayang yang dimusnahkan, ya itu jelas saya menolak banget.”

Meski begitu, pak Arya juga tetap bisa melihat sisi positif dari apa yang terjadi pada isu kontroversi tersebut. Dengan viralnya isu ini, banyak masyarakat Indonesia yang mulai memperhatikan kondisi warisan budaya wayang saat ini, bahwa ada kekayaan bangsa Indonesia, yaitu karya seni wayang yang harus dipertahankan karena keberadaannya yang sudah terancam.

“Kalau dari sisi positifnya, kasus ini seperti menyentak kita juga kan supaya kita jadi berpikir bahwa kita punya budaya asli” pungkas pak Arya.

“Keresahan seperti ini kalau saya sudah lama, tapi ternyata kasus ini membuat kita semua jadi tersentak, yang sebelumnya mungkin enggak cinta-cinta amat sama wayang jadi sadar. Itu berarti kasus ini berjasa juga untuk mengingatkan kita” tambah beliau.

Dengan meningkatnya perbincangan mengenai wayang, pak Arya melihat justru semakin banyak dukungan untuk pelestarian budaya wayang ini. Tidak hanya dari masyarakat Jawa, namun sampai pada orang-orang yang berasal dari luar pulau Jawa pun turut mendukung pelestarian wayang. Dengan begitu kesadaran masyarakat Indonesia akan keberadaan budaya wayang mengalami peningkatan.

“Jangan sampai negara kita berantem” ujar senior DoP tersebut.

Dengan bijaksana pak Arya menanggapi gelombang budaya ini layaknya sebuah proses yang memang harus dilalui oleh bangsa Indonesia.