Bullying Dari Perspektif Psikologi

Kampanye pertama Studio Djiwa mengangkat isu bullying memanfaatkan momentum Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 2021 telah sukses dilaksanakan. Lebih dari tiga ribu dukungan diperoleh kampanye “Human Rights Day: Bersatu Memutus Rantai Bullying” melalui Twibbonize frame-nya. Angka tersebut menjadi sebuah kepuasan bagi team Studio Djiwa karena mencapai target yang mereka tetapkan.

Human Rights Day: Bersatu Memutus Rantai Bullying – oleh Studio Djiwa

Link: https://twb.nz/kampanyestudiodjiwa

Kampanye ini diselenggarakan selama 4 hari, pada tanggal 8 hingga 11 Desember 2021. Para peserta kampanye diajak untuk membuat konten Point of View (POV) orang-orang yang pernah terlibat dalam peristiwa bullying, baik sebagai korban, pelaku, maupun bystander melalui sosial media. Mulai dari apa yang dirasakan korban bullying, bagaimana dampak psikologisnya, ada apa dibalik perilaku bullying itu, dan alasan perilaku orang-orang bystander.

Selain Twibbonize frame tersebut, serangkaian kegiatan yang atraktif menjadi bagian dalam rangkaian acara kampanye ini, seperti permainan-permainan kecil di Instagram Story, dan membuat podcast.

Dalam pelaksanaan kampanye ini, Studio Djiwa masuk melalui ranah psikologi untuk meningkatkan kesadaran terkait pentingnya kesehatan mental. Tidak hanya fokus pada perspektif korban bullying, tetapi juga pelaku bullying serta bystander.

Bystander adalah orang yang tidak melakukan tindakan apapun karena merasa tidak bertanggung jawab ketika melihat kejadian bullying.

“kita juga ingin menanamkan bahwa kalau kita membela korban itu secara tidak langsung kita juga membully pelakunya loh, jadi kita lebih ingin melihat mereka sebagai manusia. Kalau dari korban itu rasanya gimana, kalau dari pelaku mungkin ada motifnya, dan dari sisi bystander, kita ingin orang-orang tidak hanya menjadi saksi mata yang pasif, tapi saksi mata yang aktif bertindak melindungi korban dengan tidak membully pelakunya” ujar Wulan, Content Writer Studio Djiwa.

Liason Officer kampanye dari Studio Djiwa ini, yaitu Olivia Susilo juga mengatakan bahwa “kita ingin memperlihatkan bahwa bullying itu benar-benar memiliki dampak yang nyata, salah satunya kesehatan mental. Bullying bukan cuma suatu konsep doang, bukan cuma lucu-lucuan doang, tapi memang secara psikologis terutama untuk kesehatan mental, bullying bisa memberikan dampak negatif”.

Studio Djiwa merupakan sebuah komunitas yang mewadahi isu-isu seputar kesehatan mental melalui edukasi dengan media seni sejak bulan Mei 2020. Bullying menjadi salah satu isu kesehataan mental yang menjadi perhatian Studio Djiwa karena memiliki dampak yang nyata tidak hanya bagi korban bullying, namun juga orang-orang disekitarnya.

“orang-orang yang menjadi korban bullying pasti kesehatan mental mereka terganggu, dan berdampak juga pada hubungan mereka dengan orang lain, jadi mungkin orang-orang yang dekat dengan dia pasti akan merasakan perubahan” tambah Thania, teman proyek untuk bagian Visual Design Studio Djiwa.

Sama seperti cerita-cerita mengenai bullying di media sosial yang menyentuh hati teman-teman di Studio Djiwa, kampanye ini diharapkan agar dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai dampak bullying terhadap kesehatan mental.

Thania mengatakan bahwa “banyak juga stigma-stigma korban bullying yang membuat sampai sekarang masih banyak dari mereka sulit untuk menceritakan masalah yang mereka alami, banyak juga orang yang tidak mengerti sudut pandang pelaku bullying, agar lebih banyak orang memahami fenomena bullying ini”.

Dari target 1000-2000 peserta yang diharapkan Studio Djiwa, kampanye ini berhasil memperoleh sekitar 1300 peserta yang sebagian besar adalah siswa-siswi SMA dan mahasiswa-mahasiswi kuliah dari seluruh Indonesia hingga negara tetangga, seperti Singapura, dan Malaysia.

Hasil evaluasi kampanye ini telah menunjukan bahwa banyak peserta yang menyampaikan rasa syukur atas diselenggarakannya kampanye ini karena telah memberikan edukasi serta kesempatan dan ruang untuk bercerita mengenai pengalamannya seputar bullying. Salah satu dampak yang nyata keberhasilan kampanye ini terwujudkan dalam sebuah podcast yang berisikan pengalaman bullying yang menginspirasi banyak orang dari salah satu peserta kampanye ini.

Di hari terakhir kampanye ini, yaitu pada tanggal 11 desember 2021, kegiatan penutupan Studio Djiwa direalisasikan melalui konten-konten yang mengungkapkan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu tercapainya kesuksesan campaign ini.

Kepada Twibbonize News, perwakilan dari Divisi Acara kampanye ini, Felicia Kasela, menyampaikan respon positifnya bahwa “penggunaan Twibbonize ini sangat efektif, hanya diberikan link ataupun QR Code, bisa langsung post fotonya tanpa perlu harus ke aplikasi lain ataupun edit-edit yang agak ribet.”

Olivia juga menambahkan kesan yang didapatkan Studio Djiwa dari Twibbonize, bahwa “benar-benar se-instan itu dan se-efektif itu, jadi meminimalisir peserta yang bingung gimana caranya masukin foto ke frame, dan lain-lain.”

Studio Djiwa tidak sendirian dalam menyelenggarakan kampanye ini. Ada teman-teman dari Sadari Sekarang, yaitu komunitas pemuda yang berfokus pada peningkatan kesadaran tentang pentingnya mencintai diri sendiri melalui program-program edukasi yang menemani Studio Djiwa menyukseskan kampanye ini.

Selain itu, beberapa illustrator juga berperan dalam suksesnya kampanye ini, diantaranya adalah Agen Culun, Sisipasiii, dan Odeuley. Tidak heran jika konten-konten digital Studio Djiwa selalu menarik pandangan mata siapapun yang melihatnya.

Berbagai kolaborasi dan proyek lain yang berkaitan dengan isu-isu seputar kesehatan mental sedang dipersiapkan teman-teman Studio Djiwa. Yuk kita nantikan dan dukung gerakan-gerakan baik lainnya yang akan diadakan di tahun 2022!